Header Ads

Jalan-Jalan Sejarah ke Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin Utara

Kalau pian lagi jalan-jalan ke Banjarmasin, ada satu tempat yang wajib banget masuk daftar kunjungan pian. Bukan cuma karena arsitekturnya yang estetik dan instagramable dengan nuansa kayu klasik, tapi karena tempat ini adalah saksi bisu dimulainya sejarah Islam di Kalimantan Selatan. Namanya Masjid Sultan Suriansyah, atau warga lokal sering menyebutnya Masjid Kuin.

KOKOH - Masji Sultan Suriansyah di Kuin, Banjarmasin Utara
Berdiri kokoh di tepian Sungai Kuin, Kecamatan Banjarmasin Utara, rumah ibadah ini sudah berusia sekitar lima abad! Dibangun antara tahun 1526 hingga 1550, masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam pertama di bawah kepemimpinan raja Banjar pertama yang memeluk Islam.
Kisah di Balik Dinding Ulin
Menilik sejarahnya, berdirinya masjid ini sebenarnya berawal dari sebuah kisah seorang pangeran bernama Raden Samudera yang terdepak dari takhtanya di Kerajaan Negara Daha oleh pamannya sendiri. Tidak mau menyerah begitu saja, Raden Samudera bergerak dan meminta bantuan militer ke Kesultanan Demak di Pulau Jawa.
Demak setuju membantu, tapi dengan satu syarat: Raden Samudera dan rakyatnya harus memeluk Islam jika mereka menang.
Singkat cerita, kemenangan berhasil diraih. Raden Samudera kemudian naik takhta, mendirikan Kesultanan Banjar, dan mengganti namanya menjadi Sultan Suriansyah. Tepat pada 24 September 1526, beliau resmi memeluk Islam. Sebagai simbol kemenangan dan dimulainya era baru, dibangunlah masjid ini dibantu oleh Khatib Dayan, ulama utusan dari Demak.
Akulturasi Cantik Jawa - Banjar yang Tak Lekang Zaman
Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, pian bakal langsung merasakan vibes masa lalu yang kental. Karena arsitekturnya dibimbing oleh ulama dari Jawa, jangan heran kalau bentuk atapnya bertingkat tiga (tumpang mirip seperti gaya Masjid Agung Demak).
Namun, kearifan lokal Banjar tetap mendominasi. Seluruh bangunan masjid ini dibuat berbentuk panggung menggunakan kayu ulin (kayu besi). Kayu ulin ini ajaib; alih-alih lapuk karena posisi masjid yang berada di lahan basah pinggir sungai, kayu ini justru makin keras dan kokoh seiring berjalannya waktu.
Kalau kamu masuk ke dalam, coba deh intip area mihrabnya. Bentuknya menyerupai limas segi enam yang melambangkan rukun iman. Kamu juga bisa melihat Lawang Agung (pintu utama) dan mimbar kuno yang diukir indah dengan tulisan Arab Melayu bertahun 1700-an dan 1800-an. 
Hari ini, Masjid Sultan Suriansyah bukan lagi sekadar tempat salat bagi warga sekitar. Masjid ini sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang ramai dikunjungi peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah.
Duduk di selasar masjid sambil memandang aliran Sungai Kuin dan mendengarkan angin sepoi-sepoi membawa kita berimajinasi ke masa 500 tahun lalu saat perahu-perahu kayu merapat di dermaga depan masjid, membawa para jemaah gelombang pertama di tanah Kalimantan Selatan. Sebuah perpaduan sejarah, religi, dan ketenangan yang bikin siapa saja betah berlama-lama di sini. (north banjarmasin)

Tidak ada komentar

close
pop up banner